Kebijakan dan Strategi

Kebijakan dan Strategi

Kebijakan UPT

  1. Dalam pemberantasan TB Paru mengikuti Program Nasional Strategi DOTS.
  2. Untuk penyakit lainnya sesuai dengan Standart Pelayanan Minimal dan SOP
  3. Standar pelayanan setara dengan Rumah Sakit Type C

Strategi (ANALISA SWOT/Strength,Weakness, Opportunities, Threats)

Strategi sebagai berikut :

1.  Kekuatan (Strenght) untuk mengembangkan Rumah Sakit Paru Surabaya :

  • Sarana yang ada sudah memadai, terdapat lahan seluas 1,3 ha. Bangunan 1950 m2 dan ruang-ruangan untuk rawat inap.
  • Bantuan pemerintah (APBD) memenuhi peralatan-peralatan medis dan menambah /merenovasi sarana-sarana bangunan.
  • Uji coba rawat inap sejak Juni 1999 (SK Uji Coba Kepala Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur) terlihat jumlah penderita yang dirawat makin bertambah setiap bulan.
  • Penetapan dari Gubernur Jawa Timur sebagai Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) per Januari 2010.
  • Surat izin penyelenggaraan Rumah Sakit Khusus Paru Surabaya nomor : P2T/1/03.26/XI/2010 dari Gubernur Jawa Timur.
  • Sertifikat Akreditasi Rumah Sakit Paru Surabaya Nomor : KARS-SERT/551/IV/2012.
  • Keputusan Menteri Kesehatan Nomor : HK.03.05/I/1775/12 tentang Penetapan Kelas Rumah Sakit Khusus Paru Surabaya Provinsi Jawa Timur.

2. Kelemahan (Weakness) yang menghambat pengembangan :

SDM yang belum memadai / optimal karena masih kurangnya tenaga ahli dan kurangnya keterampilan SDM yang sudah ada, hal ini bisa diatasi dengan mengirimkan SDM yang sudah ada ke pelatihan/seminar/kursus untuk menambah ketrampilan SDM RS Paru Surabaya, dan menjalin kerja sama dengan Sekolah Perawat/Akademi Perawat sebagai tempat praktek siswa/mahasiswa  dan lain-lain.

3. Peluang (Opportunities) yang memungkinkan untuk pengembangan :

  • Wilayah Surabaya Utara merupakan daerah terpadat penduduknya dari 5 wilayah yang ada di kota Surabaya  (17.000 jiwa / Km2).
  • Di wilayah Surabaya Utara belum ada RSU milik pemerintah, yang ada baru 1 RS BUMN dan 2 RS Swasta. Dengan standart rumusan Hill Burton yaitu 4,5 tempat tidur/Rs/ 1000 populasi, dirasakan ketiga RS yang ada diwilayah Surabaya tersebut belum cukup untuk menampung kebutuhan tempat tidur rumah sakit dari seluruh masyarakat.
  • Transportasi yang mudah tidak menjadi kendala bagi pasien yang hendak berobat.
  • Keberadaan RS Paru Surabaya semakin diminati masyarakat dalam hal ini dapat dilihat dari kunjungan berobat jalan maupun rawat inap yang makin meningkat.

4. Sebagai ancaman (Threats) pada pengembangan RS Paru Surabaya adalah :

  • Harus mampu bersaing dengan RS Pemerintah milik Pemkot (RS Soewandi), RS BUMN dan RS Swasta di wilayah Surabaya Utara baik dalam segi mutu pelayanan, efisiensi dan efektisitas pelayanan.
  • Tarif layanan belum ditetapkan oleh DPRD Propinsi Jatim, masih mengacu pada Pola Tarif yang lama tetapi tetap harus bisa memberikan pelayanan yang sesuai standar.
  • Pengelolaan SDM harus optimal dengan semakin banyaknya kunjungan pasien